Selamat Datang di Perpustakaan Nyamuk, Perpustakaan Digital dengan 1001 Pengetahuan : www.perpustakaannyamuk.blogspot.com

Selamat Datang di Perpustakaan Nyamuk

www.perpustakaannyamuk.blogspot.com

TEMUKAN KESUKSESAN ANDA DI SINI

www.perpustakaannyamuk.blogspot.com

Cari Software, Coba Klik di Sini

www.perpustakaannyamuk.blogspot.com

GRATIS, kumpulan e-book hanya di Perpustakaan Nyamuk

www.perpustakaannyamuk.blogspot.com

Dapatkan Informasi Terbaru, hanya di Sini

www.perpustakaannyamuk.blogspot.com

STOP Diskriminasi tergadap Guru TIK

Untuk semua warga negara Indonesia, mohon dukungannya jika warga negara ini masih butuh dengan yang namanya mata pelajaran Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK) begitu juga dengan Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KPPI) mengingat masih sangat jauhnya anak anak kita terutama yang berada di pelosok pedalaman yang ada di Indonesia ini, bisa, paham & mengerti akan Teknologi.
di kurikulum 2013 ini mata pelajaran TIK & KPPI di hapuskan, apa jadinya dengan anak-anak kita yang hidup di abad modern, tapi tidak mengenal teknologi ?



www.agtikknas.org

Tips Memancing Ide untuk bisa Menulis

Memancing Ide
Sedang tidak punya ide untuk menulis? Nenek berikan lima umpan yang bisa kamu pakai untuk memancing idemu!
1. Siapakah orang di sekitarmu yang kamu anggap paling misterius? Kira-kira, kenapa, ya, dia misterius? Coba pikirkan alternatif jawabannya. Lalu, buatlah cerita tentang tokoh misterius itu.

2. Coba ingat-ingat mimpimu yang paling lucu. Bayangkan kalau mimpi itu benar-benar terjadi. Lalu, tuliskan ceritanya, ya!

3. Apa, sih, cita-citamu? Bayangkan kalau kamu sudah berhasil meraih cita-citamu itu. Apa saja yang kamu lakukan? Coba tuliskan ceritanya!
Hobby Horse

4. Bayangkan ketika kamu sedang berjalan pulang dari sekolah. Tiba-tiba, kamu menemukan amplop tebal yang penuh berisi uang. Apa yang kamu lakukan? Buatlah ceritanya.
5. Coba perhatikan adik atau kakakmu? Kebiasaan aneh apa yang dia miliki? Buatlah cerita yang tokoh utamanya punya kebiasaan aneh seperti itu.

Cukup? Kapan-kapan, Nenek kasih umpan lagi, ya! Sekarang, Nenek mau membuat kue pai yang lezat dulu. Mau? 

Tips Membuat Judul Cerita
Ketika akan masuk toko, pasti kamu mengintip barang di etalase. Begitu juga dengan cerita. Sebelum membaca isi cerita, pasti pembaca akan melihat judulnya dulu. Kalau menarik, pembaca masuk. Kalau tidak menarik, lewat, deh! Nah, Nenek punya beberapa tips membuat judul cerita .

1. Jangan Menceritakan Isi dalam Judul.
Apa yang kamu bayangkan ketika membaca judul sebuah cerpen “Akhirnya Adik Tidak Nakal Lagi”? Pasti yang terbayang adalah cerita tentang seorang adik yang sering berbuat nakal pada kakaknya. Karena sesuatu hal, si adik sadar, kemudian tidak lagi berbuat nakal pada kakaknya. Enggak seru, kan, kalau kita bisa menebak isi ceritanya?

2. Bikin Pembaca Penasaran.
Pasti akan berbeda ketika kamu membaca judul cerpen yang lain, misalnya “Roket Meleset”. Apa yang terpikir? Judulnya lucu? Kenapa ada roket bisa meleset? Lalu, kamu pun penasaran untuk membaca cerpen itu!
Membuat Judul Cerita

3. Sesuai dengan Isi Cerita.
Eits, namun, bukan berarti kita bisa sembarangan membuat judul dengan kata yang aneh-aneh, lo! Meskipun mengandung kata unik dan bombastis, judul harus tetap sesuai dengan isi ceritamu. Kalau judulnya Roket Meleset, ceritanya juga harus tentang roket yang meleset. Entah apanya yang meleset, itu terserah kamu sebagai pembuat cerita.

4. Bebas Memilih Waktu.
Kamu bebas membuat judul sebelum atau sesudah menulis cerita. Kalau lebih mudah untukmu membuat judul dahulu baru menulis isi ceritanya, silakan. Tetapi, tidak salah juga kalau kamu lebih suka untuk menulis cerita, kemudian membuat judulnya belakangan.
Judul Cerita

5. Buatlah Alternatif.
Jika kamu ingin belajar membuat judul yang menarik, cobalah membuat beberapa pilihan judul. Kamu boleh menulis lima, delapan, atau sepuluh judul untuk satu ceritamu. Rasa-rasakan, mana di antara pilihan judul itu yang paling pas.

di ambil dari tulisan Umi Sakdiyah

Nilai Ujian Praktek TIK kelas 6 SDIT Widya Cendekia

NILAI UTS TIK

Nilai Ulangan Tengah Semester (UTS) Semester Genap
SDIT Widya Cendekia
Tp. 2012/2013




Passwordnya : ***an su****** 
ganti tanda bintang dengan nama guru tik

Mau Kemana Kita Setelah Lulus Sekolah ?


Potret Sekolah Dewasa ini

Kecurangan tersistem selama Ujian Nasional yang difasilitasi guru, dan pembelajaran yang diabdikan untuk ujian2, serta formalisme kronis telah membuat sekolah menjadi ladang pembantaian karakter murid, dan pengasingan murid dari lingkungan masyarakatnya. Alih-alih menjadi solusi, sekolah saat ini telah menjadi bagian dari masalah. Kehadiran ICT telah dan sedang serta akan mengubah permainan, termasuk pendidikan. Posisi sekolah akan berubah untuk selama-lamanya. Siapapun harus menyesuaikan diri, terutama guru. Jika tidak, baik sekolah maupun guru akan menjadi dinosaurus, kehilangan relevansi. Pendidikan jelas bukan persekolahan, dan belajar bukan sekedar untuk lulus ujian.  Kita membutuhkan pemahaman baru tentang pendidikan, dan belajar agar warga muda kita mampu menyongsong masa depan secara kreatif. Pemahaman baru ini menuntut perubahan mendasar dalam kebijakan dan praksis pendidikan di masa depan.

Berbagai persoalan pendidikan, sejak gedung sekolah ambruk, keterlambatan pencairan BOS, RSBI yang diskriminatif, kecurangan Ujian Nasional, sampai sertifikasi guru model PLPG yang amburadul cukup banyak menyita perhatian banyak kalangan. Lalu solusi yang dilakukan Pemerintah adalah dengan menambah anggaran pendidikan. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah peningkatan anggaran persekolahan.  Banyak orang tidak berpikir bahwa berbagai persoalan itu muncul justru karena adanya sekolah. Kepercayaan masyarakat pada sekolah menurun sehingga sekarang muncul gerakan homeschooling. Potret pendidikan Indonesia saat ini hampir sama dengan pendidikan di Amerika Latin yang digambarkan oleh Ivan Illich pada tahun 1970-an melalui bukunya ‘Deschooling Society”.

Pendidikan saat ini diartikan sebagai persekolahan dengan semua formalismenya yang sering dibangga-banggakan. Wajib belajar diartikan sebagai wajib sekolah. Sekolah berusaha keras memberi pesan dan kesan sebagai satu-satunya tempat belajar. Anak usia sekolah dilarang bekerja karena bekerja dianggap tidak belajar. Banyak dari kita saat ini sekolah sejak TK sampai perguruan tinggi, lalu setelah lulus baru mencari pekerjaan. Sekolah telah menjadi industri sendiri dengan aturan-aturannya yang kaku. Formalisme ini justru mengurangi daya serapnya terhadap kebutuhan murid yang beragam. Murid harus menyesuaikan kurikulum yang seragam,  bukan kurikulum yang menyesuaikan dengan kebutuhan murid. Pendekatan industri ini mengundang bahaya laten yang tidak disadari, karena seperti juga industri lainnya, sekolah sebagai industri memiliki siklus : bayi, tumbuh remaja, dewasa, matang, dan mati.

Syarat ijazah diberlakukan untuk banyak jabatan-jabatan publik, terutama pegawai negeri.  Inilah barangkali alasan terpenting mengapa sekolah masih ada dan dikunjungi murid : untuk mengisi lowongan PNS. Dalam perspektif sejarah, memang sekolah-sekolah kita tidak banyak berubah sejak masa kolonial : menyediakan pegawai bagi pemerintah penjajahan. Tidak ada alasan lain yg lebih penting. Lihat bagaimana rekrutmen PNS menjadi ajang sogokan.  Bahkan di daerah ada layanan Bimbel agar lolos tes PNS  !



Beberapa tahun terakhir ini kita menyaksikan sekolah menjadi bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi. Tidak sedikit guru mengajarkan kebohongan justru di sekolah. Sing jujur malah ajur. Guru lebih mengharapkan jawaban yang benar dari murid-muridnya, bukan jawaban yang jujur. Menyontek dianggap biasa. Banyak kekerasan justru terjadi di sekolah secara fisik maupun non-fisik. Guru lebih mudah marah bila murid datang tidak berseragam daripada jika ia tidak membawa buku.

Sekolah hanya tempat guru mengajar, bukan tempat murid belajar. Sekolah menjadi penjara, ruang yang sempit bagi ekspresi multi-ranah dan multi-cerdas. Boleh dikatakan tidak banyak kompetensi  yang bisa dipelajari di sekolah. Kreatifitas dimatikan, penjelajahan gagasan-gagsan baru tidak terjadi. Semakin lama bersekolah justru semakin tidak mandiri, semakin mudah menganggur. Jumlah pengangguran sarjana meningkat tajam.

Sekolah menjadi bagian penting mengapa klas menengah kita konsumtif, bukan produktif. Di sekolah, mentalitas pegawai justru ditumbuhsuburkan oleh guru. Banyak guru gagal menjadi teladan manusia yg berpikir bebas, dan mandiri. Desain pendidikan kolonial masih menjadi grand design pendidikan kita. Bahkan IKIP beberapa tahun silam malu melahirkan guru, lalu “pura-pura” berubah jadi universitas.

Sekolah juga berhasil  mengasingkan murid dari lingkungannya. Anak petani yang pintar diberi beasiswa masuk ke fakultas pertanian. Setelah lulus dia tidak mau jadi petani. Ini juga terjadi di masyarakat nelayan. Petani dan nelayan kita makin menua, dan daerah semakin ditinggal pemuda-pemudanya yang berbakat untuk bekerja di kota2 besar, menjadi pegawai di perusahaan-perusahaan besar atau pegawai negeri.

Dalam perspektif evolusi kelembagaan, sekolah hanyalah kreasi kelembagaan masyarakat yg usianya belum 150 tahun. Kita baru mengenal sekolah di akhir abad 19 atau awal abad 20, terutama akibat Politik Etis Belanda. Sekolah-sekolah Belanda dirancang untuk merekrut pegawai (negeri) untuk kepentingan penjajahan. Sebelumya yang kita kenal adalah pesantren sebagai sebuah sistem pendidikan yang non-formal, bahkan informal. Mentor-mentor Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, dsb.  seperti HOS Tjokroaminoto, Hasyim Asyhari, Ahmad Dahlan, dan Agus Salim, kebanyakan adalah otodidak yang senang membaca, menulis, dan bicara di samping aktivis pergerakan. Dulu orang pagi bekerja atau magang, sore atau malam mondok. Dunia kerja dan belajar tidak dipisahkan secara tegas. Belajar diniyatkan untuk meningkatkan kualitas pekerjaan yang sedang digeluti, tidak untuk memperoleh ijazah untuk melamar pekerjaan.

Redefinisi Pendidikan

Tentu tampak agak menggelikan untuk memecahkan banyak masalah pendidikan kita justru dimulai dengan mendefinisikan kembali apa yang dimaksud dengan pendidikan. Ini pertama untuk menyelamatkan pendidikan dari reduksi persekolahan. Kita akan lihat bahwa untuk mendidik kita tidak perlu mensyaratkan sekolah. Semua tempat bisa menjadi tempat belajar, semua orang menjadi guru sekaligus murid. Ki Hadjar Dewantoro mendefinisikan pendidikan sebagai ngerti, ngroso, nglakoni (memahami, merasakan, melakukan).

Jelas praktek pendidikan saat ini telah direduksi menjadi sekedar ngerti. Peminggiran pendidikan seni dan olahraga, misalnya, jelas meminggirkan ngroso. Persekolahan kita juga tidak menghargai nglakoni (praktek dan pengalaman). Pendidikan kita direduksi menjadi semakin informasional, miskin praktek pengalaman (experiential). Banyak pihak menyangka dengan menambah jam pendidikan Pancasila, murid-murid akan semakin Pancasilais. Bahkan pendidikan semakin jauh dan kering dari berkarya dalam perspektif makership (membuat sesuatu dengan tangan), sehingga pendidikan vokasi dianggap lebih rendah daripada pendidikan akademik.

Konsep pokok dalam pendidikan adalah belajar. Kita sering mendengar mantra learning to know, to be, to do, and to live together in peace and harmony. Praktek pendidikan kita saat ini jelas amat jauh dari mantra universal ini. Belajar dapat dipahami sebagai proses memaknai pengalaman, sedang pengalaman adalah dongeng tentang aku dan sekelilingku. Untuk menkonstruksikan pengalaman, kita membutuhkan 3 konsep pokok : aku, waktu, dan ruang. Tanpa “aku”, seseorang tidak bisa membangun pengalaman, ngerti dan ngroso. Kepekaan waktu dan ruang diasah dengan nglakoni. Dan tanpa pengalaman, seseorang tidak bisa belajar. Proses memaknai pengalaman ini dilakukan dengan mengikuti sebuah siklus belajar :  alami-baca-tulis-bicara.

Konstruksi pengalaman akan lengkap dengan memperkenalkan konsep keempat, yaitu “Tuhan”. Tuhan adalah esensi, sedangkan alam adalah simbol atau tanda-tanda Tuhan.   Membaca, menulis, dan bicara adalah tahapan pembelajaran simbolik yang penting. Namun harus segera dicatat bahwa akhirnya tujuan belajar adalah untuk memperbaiki praktek yang member pengalaman multi-ranah multi-cerdas. Tradisi dibangun dan dimutakhirkan melalui siklus belajar ini.

Membaca merupakan penciri kita sebagai makhluq simbolik yang hidup tidak hanya di dunia fisik, tapi juga di dunia simbol. Kapasitas simbolik inilah yang memungkinkan kita melakukan abstraksi dan imajinasi yang dibutuhkan dalam proses kreatif, yaitu menulis atau menggambar. Menulis dengan demikian merupakan pekerjaan kreatif pertama dan utama yang penting bagi pembelajar. Sedangkan bicara adalah tahapan belajar terakhir, yaitu mengkomunikasikan pengalaman. Segera perlu dicatat bahwa siklus belajar ini digerakkan oleh sebuah siklus lain, yaitu siklus kebenaran bukti-cari-tegak-sebar. Artinya, praktek adalah membuktikan kebenaran, membaca adalah mencari kebenaran, menulis adalah menegakkan kebenaran, sedangkan bicara adalah menyebarkan kebenaran.  Kedua siklus ini memperkuat siklus lainnya, yaitu siklus karakter amanah-jujur-cerdas-peduli.

Mendidik dengan demikian dapat diartikan sebagai menumbuhkan kesetiaan pada kebenaran dan keberanian berkarya sebagai bukti dari iman. Sedangkan belajar dapat diartikan sebagai tumbuh amanah, jujur, cerdas dan peduli.
Oleh : Prof. Daniel Mohammad Rosyid, Ph.D

KITA TIDAK BUTUH SEKOLAH, APALAGI KURIKULUM


Kemendikbud telah menyiapkan Kurikulum 2013 yang diklaim sebagai penyempurnaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diluncurkan pada tahun 2006 lalu. Benarkah demikian  ? Hemat saya KTSP secara konsep jauh lebih baik, tapi dibiarkan gagal oleh Kemendikbud sendiri dengan tidak menyiapkan guru yang cakap dalam jumlah yang memadai.

Kurikulum 2013 dinyatakan sebagai respons terhadap perkembangan mutakhir sekaligus hasil sigi internasional seperti PISA, TIMSS dan PIRLS yang menempatkan warga muda Indonesia di papan bawah komunitas global di bidang matematika, sains, dan ketrampilan membaca.

Hemat saya, wacana Kurikulum 2013 berpotensi  menyembunyikan dua akar masalah pokok pendidikan Indonesia saat ini, yaitu tata kelola pendidikan yang buruk (poor education governance) dan guru yang tidak kompeten. Otak-atik kurikulum jauh lebih gampang dan enak daripada memperbaiki tata kelola pendidikan dan menyiapkan guru yang kompeten.

Kurikulum terbaik sekalipun pasti akan gagal di tangan guru yang tidak kompeten. Sebaliknya, di tangan guru yang kompeten, kurikulum yang sederhana akan menghasilkan proses belajar yang bermutu. Otak-atik kurikulum adalah cara gampangan yang tidak mendasar dalam perbaikan pendidikan Indonesia, dan sekaligus membiarkan ketidakcakapan dan ketidakberdayaan komunitas guru sebagai pintu masuk bagi intervensi politik dan pragmatisme proyek hingga ketingkat sekolah seperti pengadaan buku-buku wajib yang tidak bermutu tapi menghabiskan ratusan Milyar atau bahkan Triliunan Rupiah.

Banyak studi di dunia menunjukkan bahwa Tata Kelola Pendidikan yang buruk adalah sumber korupsi. Saat ini pengelolaan pendidikan Indonesia sangat centralised and executive-heavy sehingga terlalu berorientasi pasokan. Akibatnya pendidikan semakin tidak relevan dan kebutuhan murid yang beragam cenderung tidak diperhatikan. Amanat UU 20 tentang Sisdiknas pasal 38 terlanggar oleh praksis pendidikan saat ini apalagi oleh Kurikulum 2013.

Salah satu agenda penting dalam perbaikan Tata Kelola Pendidikan adalah desentralisasi dan diversifikasi pendidikan. Desentralisasi pendidikan yang penting tidak saja dengan penguatan prakarsa Kabupaten dan Kota dalam pengelolaan pendidikan daerah, tapi juga penguatan organisasi profesi guru dan penguatan Dewan Pendidikan Daerah serta asosiasi wali murid (Parents Association) sebagai wakil konsumen pendidikan. Sertifikasi guru seharusnya dilakukan secara independen oleh organisasi profesi guru, bukan oleh Kemendikbud atau LPTK.

Agenda setting pengelolaan pendidikan, termasuk evaluasi dan kurikulum baru, seharusnya dilakukan oleh Dewan Pendidikan Daerah setelah berkonsultasi dengan Asosiasi Wali Murid di daerah, bukan ditentukan oleh penerbit buku atau kontraktor proyek Kemendikbud dan Dinas Pendidikan Daerah. Dalam era otonomi dan demokrasi ini, Kemendikbud seharusnya tidak “segemuk” sekarang.

Di dasar analisis saya, wacana kurikulum sebagai taruhan bonus atau tagihan demografi dipijakkan pada paradigma sekolah : Memperbaiki kurikulum adalah memperbaiki sekolah, dan memperbaiki sekolah adalah memperbaiki pendidikan. Padahal belajar sebagai inti dari pendidikan sebenarnya tidak membutuhkan sekolah. Artinya, pendidikan universal yang bermakna tidak mungkin tercapai dengan mengandalkan sistem persekolahan, apalagi sekedar otak-atik kurikulum belaka. Fakta empiris Indonesia maupun global tidak membuktikan secara meyakinkan bahwa semakin banyak sekolah menjadikan masyarakat semakin terdidik.

PENDIDIKAN DI ERA INTERNET

Di era internet ini ternyata iman kebanyakan kita pada sekolah tidak tergoyahkan sama sekali. Oleh Mendikbud otak-atik kurikulum sebagai bagian penting sebuah sekolah seakan-akan menjadi taruhan besar  bangsa ini. Padahal taruhan besar itu tidak di persekolahan, apalagi di kurikulum, tapi di pendidikan. Inti pendidikan adalah belajar. Tidak bersekolah tidak perlu membuat kita khawatir. Yang merisaukan adalah jika anak-anak tidak belajar.

Dengan internet belajar semakin tidak membutuhkan sekolah, apalagi kurikulum. Membentuk karakter pun hanya bisa dilakukan secara efektif dengan praktek di luar sekolah. Selama beberapa dekade terakhir ini terlihat bahwa semakin banyak sekolah tidak menyebabkan masyarakat kita makin terdidik. Hasil sigi internasional terbaru oleh PISA maupun TIMSS serta PIRLS juga menunjukkan murid Indonesia tertinggal pada kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan kemampuan membacanya juga tertinggal dibanding teman-teman sebayanya. Artinya, sekolah Indonesia tidak membekali murid dengan kompetensi yang penting untuk hidup di abad 21.

KURIKULUM

Kurikulum adalah serangkaian hasil belajar yang diharapkan, dan seluruh proses yang menghasilkan pengalaman belajar, serta mekanisme evaluasi hasil belajar murid di bawah panduan guru di sekolah. Jadi kurikulum adalah atribut penting sistem persekolahan. Segera perlu dicatat bahwa mekanisme evaluasi merupakan komponen kurikulum yang penting. Salah satu penyebab kegagalan KTSP adalah Ujian Nasional yang ikut menentukan kelulusan sehingga menggiring proses belajar yang tidak pernah menghasilkan hasil belajar yang diharapkan. Kurikulum 2013 akan digagalkan oleh UN yang sama, kecuali jika dilakukan reposisi UN.

Siapa yang membutuhkan kurikulum  ? Sekolah, Yayasan pengelola sekolah,  guru yang bekerja di sekolah, Dinas Pendidikan, Kemendikbud,  para ahli kurikulum, dan penerbit yang mau mencetak buku wajib yang akan dipakai di sekolah. Asumsi dasar pada setiap penyusunan kurikulum adalah bahwa anak akan mencapai prestasi belajar maksimal jika  melalui serangkaian instruksi dan lingkungan buatan, serta mekanisme evaluasi yang terstruktur dan terencana.  Saya berkeyakinan asumsi ini agak meremehkan kecanggihan manusia beserta semua perangkat belajarnya yang telah diciptakan oleh Tuhan sebagai ciptaan terbaik. Manusia bisa belajar dalam situasi apapun, bahkan dalam situasi yang paling getir sekalipun. Bahkan manusia belajar jauh lebih banyak dari pengalamannya di luar sekolah.

Murid sekolah sebenarnya tidak membutuhkan kurikulum resmi yang kaku. Bahlan anak yang cerdas sebenarnya tidak membutuhkan sekolah. Kebanyakan anak-anak kita sebenarnya cerdas. Di banyak sekolah kecerdasan mereka sering diremehkan oleh proses belajar yang tidak menantang yang disajikan oleh guru yang tidak kompeten. Kecerdasan merekapun sering diukur oleh instrumen yang tidak cocok, seperti tes pilihan ganda. Puncak penghinaan atas kecerdasan ini adalah Ujian Nasional yang dibantu oleh mesin pemindai ikut-ikutan menentukan kelulusan mereka. Akibat proses yang salah ini, kecerdasan anak-anak ini justru menurun dan mereka justru kehilangan jati diri dan percaya diri.

Di Sulawesi Selatan, anak nelayan yang cerdas tidak pergi ke sekolah, tapi membantu ayahnya melaut mencari ikan. Anak yang tidak terlalu cerdas justru disuruh ke sekolah. Para nelayan Bugis itu secara intuitif tahu bahwa bagi anak yang cerdas, tidak banyak yang bisa dipelajari di sekolah. Gejala seperti ini terjadi juga di Madura. Statistik yang menyatakan bahwa lama bersekolah menunjukkan tingkat keterdidikan seseorang atau suatu daerah tidak sepenuhnya benar. Asumsi statistik itu adalah semakin lama bersekolah makin baik dan makin terdidik. Asumsi ini harus dipertanyakan.

Sesungguhnya hanya anak yang malas dan berkebutuhan khusus yang memerlukan kurikulum yang “well-designed” oleh para teknokrat ahli. Anak-anak normal tidak membutuhkannya. Dengan bermain di ruang terbuka dan di alam anak-anak belajar jauh lebih banyak daripada di kelas yang sempit di sebuah tempat yang kita sebut sekolah. Neurosains menemukan bahwa ruang kelas adalah tempat paling buruk bagi proses belajar. Bekal terpenting bagi anak-anak normal ini adalah akhlaq yang baik, kegemaran membaca, ketrampilan menulis, berhitung, berbicara dan kesempatan praktek yang memadai bagi ketrampilan-ketrampilan untuk hidup secara produktif.

SCHOOLISM

Kita sudah kecanduan sekolah sehingga tidak mampu membayangkan dunia tanpa sekolah. Padahal masyarakat tanpa sekolah itu ada dan pernah ada dengan kualitas kehidupan yang jauh lebih baik daripada sebuah schooled society yang dengan congkak kita sebut modern ini. Masyarakat adat yang jauh dari sekolah yang ada di daerah pedalaman lebih tahu caranya hidup bersahabat dengan alam daripada masyarakat Jakarta yang tidak tahu caranya membuang sampah. Tapi orang kota memandang remeh masyarakat adat sebagai kampungan dan terbelakang.

Dalam perspektif sejarah, sekolah semula dibuat untuk menyiapkan buruh yang akan mengisi pabrik-pabrik yang tumbuh akibat revolusi industri di Inggris sekitar abad 17 setelah James Watt menemukan mesin uap. Sebelum itu masyarakat tidak mengenal sekolah. Tradisi universitas muncul jauh mendahului tradisi sekolah. Oxford, Cambridge umurnya sudah 700 tahun. Baitul Hikmah di Baghdad ada beberapa ratus tahun sebelum Oxford. Sebelum pergi ke universitas masyarakat pra-revolusi industri praktis belajar secara otodidak atau melalui proses belajar non-formal atau  bahkan informal. Yang dikenal hanya ijazah sarjana, magister atau doktor. Itupun diberikan jika mahasiswanya meminta. Jadi, sekolah adalah fenomena yang umurnya kurang dari 200 tahun. Dalam 200 tahun itulah proses perusakan ekosistem global terjadi secara masif yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah evolusi manusia.

JEJARING BELAJAR

Untuk memastikan pendidikan universal bagi kebanyakan anak-anak Indonesia, yang diperlukan bukan pembesaran sistem persekolahan. Yang diperlukan adalah pengembangan sebuah jejaring belajar (learning webs) yang lentur, luwes, lebih non-formal, bahkan informal. Sekolah hanya salah satu simpul dalam jejaring belajar tsb. Bengkel, toko, klinik, studio, lembaga penyiaran, penerbit, perpustakaan kecamatan, restoran, koperasi, gereja, kuil, dan masjid dapat menjadi simpul-simpul belajar. Simpul belajar yang pertama dan utama adalah keluarga di rumah. Bukti kompetensi bisa ditunjukkan dengan sertifikat kompetensi profesi yang diterbitkan oleh asosiasi profesi, bukan dengan ijazah. Namun syarat-syarat formalistik inipun sebaiknya diberlakukan secara sukarela. Sertifikat kompetensi bisa menjadi indikator kompetensi yang lebih baik daripada ijazah.

Kegagalan sistem persekolahan ditunjukkan secara gamblang di abad 21 di depan mata kita oleh krisis hutang (pribadi, korporasi dan negara) di Amerika Serikat dan Eropa yang dengan kekaguman kita sebut modern itu. AS adalah negara dengan hutang terbesar di dunia. Keberlimpahan “negara kesatu” itu ternyata dicapai melalui hutang untuk membiayai gaya hidup yang sangat konsumtif, boros energi dan merusak lingkungan. Padahal baik AS maupun Eropa adalah masyarakat yang “paling bersekolah” dengan “kurikulum yang paling canggih”.

Formalisme kronis persekolahan harus dikurangi seminimal mungkin. Oleh Illich ini disebut deschooling. Saat ini di Indonesia schoolism sudah pada tingkat yang berbahaya. TK saja mengeluarkan ijazah. Ijazah seolah menjadi bukti kompetensi seseorang. Kasus ijazah palsu yang marak terjadi adalah bukti bahwa memang masyarakat lebih membutuhkan ijazah daripada kompetensi. Hanya yang butuh ijazah yang butuh sekolah. Kita yang tidak butuh ijazah tidak butuh sekolah, apalagi kurikulum. Tanpa kurikulum resmi sekolah akan baik-baik saja. Tanpa sekolahpun kita sebenarnya baik-baik saja. Kita boleh mulai khawatir kalau kita tidak belajar.

PENUTUP

Hiruk pikuk Kurikulum 2013 berpotensi menyembunyikan masalah pokok pendidikan Indonesia : tata kelola yang buruk dan guru yang tidak cakap. Jikapun kita masih percaya dan membutuhkan sekolah, kita tidak membutuhkan kurikulum baru. KTSP dan Standar Nasional Pendidikan secara konsep sudah memadai dan memberi ruang bagi diversifikasi dan inovasi.

Yang kita butuhkan adalah guru-guru yang cakap yang bersama Komite Sekolah mengembangkan kurikulum yang cocok dengan potensi daerah yang unik, dan relevan dengan kebutuhan murid sebagai subyek yang cerdas yang unik pula. Kita membutuhkan guru yang cakap yang menghargai kecerdasan murid-muridnya, yang dapat kita percayai untuk mengevaluasi penguasaan kompetensi murid-muridnya secara multi-ranah multi-cerdas. Kita tidak membutuhkan guru pemalas dan tidak bertanggungjawab yang mengevaluasi murid-muridnya dengan tes tulis pilihan-ganda yang bisa diserahkan kepada mesin pemindai.

Jika pendidikan hendak kita jadikan sebagai strategi kebudayaan, maka yang kita harus kerjakan adalah membangun dan menghargai tradisi otodidak. Kita harus mengurangi kecenderungan sekolah memonopoli pendidikan, merampasnya dari tanggungjawab pribadi dan keluarga. Kesaktian kurikulum dan sekolah hanyalah mitos belaka.
Oleh : Prof. Daniel Mohammad Rosyid, Ph.D